Archive for January, 2017

Visi Besar Keluarga Muslim

Written by Media Aqiqah on . Posted in Artikel Aqiqah


Dan Orang orang yang berkata:
“Ya Tuhan kami anugrahkanlah kepada kaministri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyayang hari (Kami), dan Jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al Furqon : 74)

Ayat diatas adalah penjelasan dari Allah tentang salah satu ciri dari hamba-hamba Nya yang mulia. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menyenandungkan doa ini, ” “Ya Tuhan kami anugrahkanlah kepada kaministri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyayang hari (Kami), dan Jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Renungkan doa yang indah ini, ada dua tadabbur dalam doa ini:

1. Ayat mendahulukan kata pasangan, baru kemudian meyebut keturunan

2. Ayat mendahukukan doa: penyenang hati (Kami), baru kemudian bunyi doa: dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang bertakwa

Sebagaimana diketahui oleh para ahli Al quran, bahwa tidak ada yang kebetulan dalam segala hal di Al Quran. Di antaranya; urutan atau peletakan sesuatu sebelum sesuatu, seperti poin di atas. Karena Al Quran adalah Mu’jizat.

Mari kita tadaburi doa sehari-hari kita tersebut sebagai bekal bagi Visi keluarga kita.

Sumber

Buku Inspirasi dari Rumah Cahaya :Budi Ashari, Lc

Qoulan Sadiidaa

Written by Media Aqiqah on . Posted in Artikel Aqiqah

Qaulan Sadiidaa untuk Anak Kita

Remaja. Pernah saya menelusur, adakah kata itu dalam peristilahan agama kita?

Ternyata jawabnya tidak. Kita selama ini menggunakan istilah ‘remaja’ untuk menandai suatu masa dalam perkembangan manusia. Di sana terjadi guncangan, pencarian jatidiri, dan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Terhadap masa-masa itu, orang memberi permakluman atas berbagai perilaku sang remaja. Kata kita, “Wajar lah masih remaja!”

Jika tak berkait dengan taklif agama, mungkin permakluman itu tak jadi perkara. Masalahnya, bukankah ‘aqil dan baligh menandai batas sempurna antara seorang anak yang belum ditulis ‘amal dosanya dengan orang dewasa yang punya tanggungjawab terhadap perintah dan larangan, juga wajib, mubah, dan haram? Batas itu tidak memberi waktu peralihan, apalagi berlama-lama dengan manisnya istilah remaja. Begitu penanda baligh muncul, maka dia bertanggungjawab penuh atas segala perbuatannya; ‘amal shalihnya berpahala, ‘amal salahnya berdosa.

Isma’il ‘alaihissalaam, adalah sebuah gambaran bagi kita tentang sosok generasi pelanjut yang berbakti, shalih, taat kepada Allah dan memenuhi tanggungjawab penuh sebagai seorang yang dewasa sejak balighnya. Masa remaja dalam artian terguncang, mencoba itu-ini mencari jati diri, dan masa peralihan yang perlu banyak permakluman tak pernah dialaminya. Ia teguh, kokoh, dan terbentuk karakternya sejak mula. Mengapa? Agaknya Allah telah bukakan rahasia itu dalam firmanNya:

Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri. Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar. (QSnAn Nisaa’ 9)

Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan putera-puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh, kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama.

Nah, mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat sebagai qaulan sadiidaa, kata-kata yang lurus benar, sebagaimana diamanatkan oleh ayat kesembilan Surat An Nisaa’? Ataukah selama ini dalam membesarkan mereka kita hanya berprinsip “asal tidak menangis”. Padahal baik agama, ilmu jiwa, juga ilmu perilaku menegaskan bahwa menangis itu penting.

Kali ini, izinkan saya secara acak memungut contoh misal pola asuh yang perlu kita tataulang redaksionalnya. Misalnya ketika anak tak mau ditinggal pergi ayah atau ibunya, padahal si orangtua harus menghadiri acara yang tidak memungkinkan untuk mengajak sang putera. Jika kitalah sang orangtua, apa yang kita lakukan untuk membuat rencana keberangkatan kita berhasil tanpa menyakiti dan mengecewakan buah hati kita?

Saya melihat, kebanyakan kita terjebak prinsip “asal tidak menangis” tadi dalam hal ini. Kita menyangka tidak menangis berarti buah hati kita “tidak apa-apa”, “tidak keberatan”, dan “nanti juga lupa.” Betulkah demikian? Agar anak tak menangis saat ditinggal pergi, biasanya anak diselimur, dilenabuaikan oleh pembantu, nenek, atau bibinya dengan diajak melihat –umpamanya- ayam, “Yuk, kita lihat ayam yuk.. Tu ayamnya lagi mau makan tu!” Ya, anak pun tertarik, ikut menonton sang ayam. Lalu diam-diam kita pergi meninggalkannya.

Si kecil memang tidak menangis. Dia diam dan seolah suka-suka saja. Tapi di dalam jiwanya, ia telah menyimpan sebuah pelajaran, “Ooh.. Aku ditipu. Dikhianati. Aku ingin ikut Ibu tapi malah disuruh lihat ayam, agar bisa ditinggal pergi diam-diam. Kalau begitu, menipu dan mengkhianati itu tidak apa-apa. Nanti kalau sudah besar aku yang akan melakukannya!”

Betapa, meskipun dia menangis, alangkah lebih baiknya kita berpamitan baik-baik padanya. Kita bisa mencium keningnya penuh kasih, mendoakan keberkahan di telinganya, dan berjanji akan segera pulang setelah urusan selesai insyaallah. Meski menangis, anak kita akan belajar bahwa kita pamit baik-baik, mendoakannya, tetap menyayanginya, dan akan segera pulang untuknya. Meski menangis, dia telah mendengar qaulan sadiida, dan kelak semoga ini menjadi pilar kekokohan akhlaqnya.

Di waktu lain, anak yang kita sayangi ini terjatuh. Apa yang kita katakan padanya saat jatuhnya? Ada beberapa alternatif. Kita bisa saja mengatakan, “Tuh kan, sudah dibilangin jangan lari-lari! Jatuh bener kan?!” Apa manfaatnya? Membuat kita sebagai orangtua merasa tercuci tangan dari salah dan alpa. Lalu sang anak akan tumbuh sebagai pribadi yang selalu menyalahkan dirinya sepanjang hidupnya.

Atau bisa saja kita katakan, “Aduh, batunya nakal yah! Iih, batunya jahat deh, bikin adek jatuh ya Sayang?” Dan bisa saja anak kita kelak tumbuh sebagai orang yang pandai menyusun alasan kegagalan dengan mempersalahkan pihak lain. Di kelas sepuluh SMA, saat kita tanya, “Mengapa nilai Matematikamu cuma 6 Mas?” Dia tangkas menjawab, “Habis gurunya killer sih Ma. Lagian, kalau ngajar nggak jelas gitu.”

Atau bisa saja kita katakan, “Sini Sayang! Nggak apa-apa! Nggak sakit kok! Duh, anak Mama nggak usah nangis! Nggak apa-apa! Tu, cuma kayak gitu, nggak sakit kan?” Sebenarnya maksudnya mungkin bagus: agar anak jadi tangguh, tidak cengeng. Tapi sadarkah bahwa bisa saja anak kita sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa? Dan kata-kata kita, telah membuatnya mengambil pelajaran; jika melihat penderitaan, katakan saja “Ah, cuma kayak gitu! Belum seberapa! Nggak apa-apa!” Celakanya, bagaimana jika kalimat ini kelak dia arahkan pada kita, orangtunya, di saat umur kita sudah uzur dan kita sakit-sakitan? “Nggak apa-apa Bu, cuma kayak gitu. Jangan nangis ah, sudah tua, malu kan?” Akankah kita ‘kutuk’ dia sebagai anak durhaka, padahal dia hanya meneladani kita yang dulu mendurhakainya saat kecil?

Ah.. Qaulan sadiida. Ternyata tak mudah. Seperti saat kita mengatakan untuk menyemangati anak-anak kita, “Anak shalih masuk surga.. Anak nakal masuk neraka..” Betulkah? Ada dalilnya kah? Padahal semua anak jika tertakdir meninggal pasti akan menjadi penghuni surga. Juga kata-kata kita saat tak menyukai keusilan –baca; kreativitas-nya semisal bermain dengan gelas dan piring yang mudah pecah. Kita kadang mengucapkan, “Hayo.. Allah nggak suka lho Nak! Allah nggak suka!”

Sejujurnya, siapa yang tak menyukainya? Allah kah? Atau kita, karena diri ini tak ingin repot saja. Alangkah lancang kita mengatasnamakan Allah! Dan alangkah lancang kita mengenalkan pada anak kita satu sifat yang tak sepantasnya untuk Allah yakni, “Yang Maha Tidak Suka!” Karena dengan kalimat kita itu, dia merasa, Allah ini kok sedikit-sedikit tidak suka, ini nggak boleh, itu nggak benar.

Alangkah agungnya qaulan sadiida. Dengan qaulan sadiida, sedikit perbedaan bisa membuat segalanya jauh lebih cerah. Inilah kisah tentang dua anak penyuka minum susu. Anak yang satu, sering dibangunkan dari tidur malas-malasannya oleh sang ibu dengan kalimat, “Nak, cepat bangun! Nanti kalau bangun Ibu bikinkan susu deh!” Saat si anak bangun dan mengucek matanya, dia berteriak, “Mana susunya!” Dari kejauhan terdengar adukan sendok pada gelas. “Iya. Sabar sebentaar!” Dan sang ibupun tergopoh-gopoh membawakan segelas susu untuk si anak yang cemberut berat.

Sementara ibu dari anak yang satunya lagi mengambil urutan kerja berbeda. Sang ibu mengatakan begini, “Nak, bangun Nak. Di meja belajar sudah Ibu siapkan susu untukmu!” Si anakpun bangun, tersenyum, dan mengucap terimakasih pada sang ibu.

Ibu pertama dan kedua sama capeknya; sama-sama harus membuat susu, sama-sama harus berjuang membangunkan sang putera. Tapi anak yang awal tumbuh sebagai si suka pamrih yang digerakkan dengan janji, dan takkan tergerak oleh hal yang jika dihitung-hitung tak bermanfaat nyata baginya. Anak kedua tumbuh menjadi sosok ikhlas penuh etos. Dia belajar pada ibunya yang tulus; tak suka berjanji, tapi selalu sudah menyediakan segelas susu ketika membangunkannya.

Ya Allah, kami tahu, rumahtangga Islami adalah langkah kedua dan pilar utama dari da’wah yang kami citakan untuk mengubah wajah bumi. Ya Allah maka jangan Kau biarkan kami tertipu oleh kekerdilan jiwa kami, hingga menganggap kecil urusan ini. Ya Allah maka bukakanlah kemudahan bagi kami untuk menata da’wah ini dari pribadi kami, keluarga kami, masyarakat kami, negeri kami, hingga kami menjadi guru semesta sejati.

Ya Allah, karuniakan pada kami lisan yang shidiq, seperti lisan Ibrahim. Karuniakan pada kami anak-anak shalih yang kokoh imannya dan mulia akhlaqnya, seperti Isma’il. Meski kami jauh dari mereka, tapi izinkan kami belajar untuk mengucapkan qaulan sadiida, huruf demi huruf, kata demi kata. Aamiin. Sepenuh cinta.

sumber: salimfillah.com

Parenting Nabawiyah

Written by Media Aqiqah on . Posted in Artikel Aqiqah


Dari Abdullah Ibnu Umar RadhiyAllahu anhuma dia berkata : ” Apabila ada seseorang yang bermimpi pada masa Rasululah, maka ia pun akan menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah, hingga saya juga ingin sekali bermimpi dan menceritakan kepada beliau.

Ketika remaja, pada masa Rasulullah, saya pernah tertidur di Masjid. Dalam tidur saya bermimpi bahwa ada dua malaikat yang menangkap saya dan membawa saya ke Neraka yang tepinya berdinding seperti sumur dengan dua tali seperti tali sumur. ternyata di dalam sumur tersebut ada beberapa orang yang saya kenal dan segera saya ucapkan: ‘Aku berlindung dari siksa Neraka. ‘Tak lama kemudian, kedua malaikat tersebut di temui oleh satu malaikat lain dan ia berkata kepada saya: ‘Kamu akan aman.’ Lalu sayaceritakan mimpi saya itu kepada Hafshah radhiyAllahu  ‘anha dan Hafshah menceritakan kepada Rasulullah. kemudia Rasulullah bersabda: ‘Sebaik-baik orang adalah Abdullah bin Umar RadhiyAllahu ‘anhuma, jika ia berkenan melaksanakan shalat di sebagian malam,’

Salim radhiyAllahu ‘anhu berkata; Setelah itu Abdullah bin Umar rasdhiyAllahu ‘anhuma tidak pernah tidur dimalah hari kecuali sebentar.'(MUSLIM-4528)

Hadits ini dijelaskan dari Al Qurtubi sebagai berikut : “Rasululloh menafsirkan mimpi Abdullah dari sisi baiknya. Dimana dia dibawa ke Neraka tetapi diselamatkan darinya dan dikatakan kepadanya: Tidak usah takut. Hal ini dikarenakan kesholehannya, tetapi dia belum melakukan sholat malam, Maka diberikan peringatan kepada Abdullah bahwa Qiyamullail akan melindungi seseorang dari terjatuh ke dalam api Neraka dan mendekat ke Neraka. Karenanya, dia tidak meninggalkan Qiyamullail setelah itu ( Fathul Bari, Ibnu hajar Atsqalani, 3/7, MS)

Parenting Nabawiyah mencoba membangun tips dari hadits diatas. Ada banyak pelajaran dari hadits tersebut.tetapi kita lihat satu saja; yaitu bagaimana cara Rasulullah menanamkan sebuah Qiyamullail bagi seorang anak remaja:

a. Memanfaatkat momentum dalam hati yang ditunggu-tunggu untuk menjadi pintu masuk pembahasan

b. Menggunakan bahasa positif, memotivasi tapi bersyarat dengan target amal tersebut

c. Orang yang meyampaikan haruslah orang yang dikagumi. bisa jadi, orang itu orang lain bukan orang tuanya sendiri.

d. Menghidupkan hati dan akal anak dengan kebaikan, sehingga mempunyai kekuatan menangkap penjelasan dan logika.

Terbukti hasil dari tips Nabi tersebut, Abdullah bin Umar begitu terdorong untuk melakukannya dan konsisten menjaganya.

Kisah ini bisa juga dijadikan analogi bagi para orang tua yang menginginkan anaknya melakukan sebuah aktifitas mulia tapi terasa berat. Apa saja.

Begitulah, cara Parenting Nabawiyah bekerja.

Sumber :

Buku : Inspirasi Dari Rumah Cahaya, hal xiv-xvi (Budi Ashari,Lc)